Surabaya, 3 Desember 2025 – Dosen Biosains Hewan Universitas Negeri Surabaya Rizka Muizzu Aprilia, S.Pt., M.PT., memaparkan hasil penelitian terbarunya mengenai Mitigasi Risiko Perubahan Iklim pada Komoditas Strategis: Studi Ketahanan Pangan Berbasis Data Spasial. Penelitian ini mengungkap temuan penting terkait pola curah hujan, produktivitas komoditas strategis, dan kesiapan petani dalam menghadapi perubahan iklim.
Dalam paparan tersebut, Bu Izzu menyoroti bahwa curah hujan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap produksi padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, maupun tebu. Sebaliknya, variasi produktivitas lebih dipengaruhi oleh strategi adaptasi petani, seperti penggunaan irigasi mandiri, pergiliran tanaman, dan pemilihan varietas. “Setiap komoditas memiliki ketahanan ekologis yang berbeda, sehingga sensitivitas terhadap perubahan cuaca tidak seragam,” ujarnya.
Penelitian ini juga menyoroti aspek pengetahuan, sikap, dan praktik petani. Mayoritas petani memiliki pemahaman yang baik mengenai perubahan pola hujan dan dampaknya terhadap budidaya. Mereka menunjukkan kesiapan untuk mengadopsi praktik adaptasi baru, seperti perubahan pola tanam, penggunaan varietas tahan iklim, dan praktik pertanian berkelanjutan. Namun, Rizka menekankan bahwa kendala utama masih terdapat pada akses informasi iklim, dukungan teknologi, dan keterbatasan kelembagaan di lapangan.
Hasil pemetaan risiko iklim dan produksi komoditas menunjukkan fakta menarik: banyak wilayah dengan produktivitas tinggi justru berada di zona rawan kekeringan, banjir, dan longsor. Kerentanan tertinggi ditemukan pada padi, jagung, kedelai, cabai, dan bawang merah di sentra produksi utama. “Data spasial terbukti efektif dalam mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi untuk menjaga ketahanan produksi jangka panjang,” jelas Izzu.
Lebih lanjut, integrasi data spasial iklim dan produksi memberikan pemetaan risiko yang lebih akurat. Model ini mampu menandai wilayah stabil, rentan, dan yang membutuhkan dukungan adaptasi khusus. Analisis tersebut diyakini dapat menjadi dasar bagi perencanaan kebijakan pertanian yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan (Pungkas Bu Izzu).
Penelitian ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim, sekaligus meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola risiko yang ada.