Biosains Hewan Mengabdi Dampingi Warga Manukan Kulon Kelola Sampah Organik melalui Budidaya Maggot
Surabaya, 18 September 2026. Program Studi S1 Biosains Hewan, Fakultas Ketahanan Pangan, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), melalui program Biosains Hewan Mengabdi, memberikan pendampingan kepada masyarakat Kelurahan Manukan Kulon, Surabaya, dalam mengelola sampah organik melalui budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan selama tiga bulan, mulai Juli hingga September 2026, tersebut mengusung tema “Pendampingan Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Mendukung Lingkungan Berkelanjutan dan Kemandirian Masyarakat di Kelurahan Manukan Kulon.”
Program ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Dr. Rizka Muizzu Aprilia, S.Pt., M.Pt. dan Heni Natalia Aritonang, S.Pt., M.Pt., bersama mahasiswa Program Studi S1 Biosains Hewan. Pendampingan diarahkan untuk memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada masyarakat dalam memanfaatkan sampah organik menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Melalui kegiatan bertajuk “Budidaya Maggot untuk Mengubah Sampah Menjadi Cuan”, masyarakat diperkenalkan pada pengelolaan sampah organik dengan pendekatan ekonomi sirkular. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dimanfaatkan sebagai sumber pakan dalam budidaya maggot.
Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pemilahan sampah organik, persiapan media budidaya, pemeliharaan maggot, pemanenan, hingga pengolahan hasil budidaya. Maggot yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif, termasuk untuk ikan dan ayam. Program tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kelurahan Manukan Kulon. Lurah Manukan Kulon, Moestofa, ST, mengungkapkan bahwa persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat di wilayah kelurahan.
“Kami sangat mengapresiasi adanya pendampingan pengolahan sampah organik ini. Masyarakat mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya memilah dan mengolah sampah sehingga tidak hanya mengurangi permasalahan lingkungan, tetapi juga dapat menghasilkan produk pakan yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Moestofa. Menurutnya, pendekatan pengelolaan sampah melalui budidaya maggot memberikan alternatif pemanfaatan sampah organik yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Selain membantu mengurangi sampah, hasil budidaya juga berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan.
Dampak pendampingan juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Pak Didik, salah satu warga peserta kegiatan, menjadi salah satu contoh warga yang melanjutkan praktik budidaya secara mandiri setelah memperoleh pendampingan. Ia tidak hanya memelihara maggot untuk menghasilkan larva, tetapi juga mulai memahami siklus hidup Black Soldier Fly secara lebih lengkap. Budidaya dilakukan dengan mempertahankan siklus mulai dari telur, larva atau maggot, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa yang kemudian dapat menghasilkan telur kembali.
Hingga saat ini, budidaya yang dilakukan Pak Didik telah memasuki generasi ketiga. Keberlanjutan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh selama pendampingan mulai diterapkan secara mandiri di tingkat rumah tangga.
Bagi mahasiswa Biosains Hewan, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar kelas. Mahasiswa berkesempatan mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus berinteraksi secara langsung dengan masyarakat untuk memahami persoalan lingkungan dan mencari solusi yang aplikatif.
Keterlibatan mahasiswa juga memberikan pengalaman dalam proses edukasi, pendampingan budidaya, pengelolaan sampah organik, serta pemanfaatan hasil budidaya. Dengan demikian, kegiatan pengabdian tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat pengalaman mahasiswa dalam menerapkan ilmu Biosains Hewan di lapangan.
Dr. Rizka Muizzu Aprilia, S.Pt., M.Pt., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diarahkan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik.
“Melalui Biosains Hewan Mengabdi, kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik tidak selalu harus dipandang sebagai limbah. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya untuk budidaya maggot dan selanjutnya menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah,” jelas Rizka. Menurutnya, penerapan budidaya maggot menjadi salah satu bentuk sederhana dari konsep ekonomi sirkular. Sampah organik dimanfaatkan sebagai bagian dari proses produksi, sedangkan hasil budidaya dapat kembali dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Siklus tersebut membuka peluang untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
